MELATI AKAN BERBUNGA KEMBALI Wanita itu lagi. Dia selalu menyambut pagi dan mengantar malam di ruanganku. Cuma berdiri menatapku. Apakah itu iba? Aku tetap di sudut ruangan. Meringkuk. Sakit. Mataku mulai kabur. Jutaan jarum, mungkin milyaran, seperti menjajah urat-urat nadi. Seperti dirajam. Rasanya ingin mati,…ah jangan,…kata orang akhirat itu mengerikan. Jangan mati sekarang. Aku belum [...]
Arsip untuk ‘cerpen’ Kategori
MELATI AKAN BERBUNGA KEMBALI
Diposkan dalam cerpen pada 26 Maret 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
HOW DO YOU DO
Diposkan dalam cerpen pada 22 Maret 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
HOW DO YOU DO Bila kau pikir, kau adalah yang terbodoh dari yang terbodoh. Ataupun pecundang dari yang paling pecundang, aturlah kembali otakmu. Karena aku memiliki teman yang paling pecundang. Bahkan bila kau memamerkan teman pecundangmu, temankulah yang paling pecundang. Namanya Lores. Nama yang cocok untuk seorang pecundang sejati. Ia TIDAK memiliki skill apapun. Olahraga [...]
MELATI AKAN BERBUNGA KEMBALI
Diposkan dalam cerpen pada 22 Maret 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
MELATI AKAN BERBUNGA KEMBALI Wanita itu lagi. Dia selalu menyambut pagi dan mengantar malam di ruanganku. Cuma berdiri menatapku. Apakah itu iba? Aku tetap di sudut ruangan. Meringkuk. Sakit. Mataku mulai kabur. Jutaan jarum, mungkin milyaran, seperti menjajah urat-urat nadi. Seperti dirajam. Rasanya ingin mati,…ah jangan,…kata orang akhirat itu mengerikan. Jangan mati sekarang. Aku belum [...]
Cinderella (english version)
Diposkan dalam cerpen pada 22 Maret 2009 | 1 Komentar »
Cinderella (english version) Cinderella was a very kind girl . She was only 15 years old when her mother died . Then , her father remarried a widow with two daughters , he hoped that cinderella would not be lonely . Unfortunately , her father passed away. Every day , cinderella’s stepmother and sister grew [...]
Saya tidak mau mati dok!
Diposkan dalam cerpen pada 20 Februari 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Saya tidak mau mati dok! Siang-siang waktu istirahat, seorang dokter dikejutkan oleh seseorang yang menangis tersedu-sedu sambil berkata “Saya tidak mau mati, Dokter”. Merasa kasihan dengan orang itu, sang dokter merelakan waktu istirahat siangnya. Lalu dokter itu berkata “Ada apa? coba ceritakan masalahmu!” Lalu dengan tersengguk-sengguk pasien itu berkata, “Dokter, jika saya menyentuh bagian tubuh [...]
Yang Kusyukuri Dari Sakit Ini
Diposkan dalam cerpen pada 20 Februari 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Yang Kusyukuri Dari Sakit Ini Lelaki itu –entahlah –sepertinya sudah ditakdirkan menjadi tempat bersarang bagi bermacam penyakit. Renta, lapuk, kuyu… padahal usianya belum lagi genap empat puluh. Tapi satu yang saya lihat indah padanya: pancaran kehidupan. Lelaki ini, saya pikir, adakah yang bisa dinikmatinya dari hidup? Mungkin tak ada. Diabetes membuat ia harus mengonsumsi makanan-makanan [...]
Nombok Dong!
Diposkan dalam cerpen pada 20 Februari 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Nombok Dong! Pieree! Keciliin tape-nya! Suara Dea mengelegar, saingan ama suara tape dari kamar Pieree. “Apaaa?” jawab Piere nggak kalah menggelagar. “Keciliin tape-nya!” ulang Dea “Keciliin? Emangnya aku tukang sulap?” Pieree cekikikan. Dea jadi dongkol mirip ikan tongkol yang keselek engkol. Sudah berapa kali Piere ngejawab dengan gaya slengean. Dea yang kelewat kece itu punya [...]
Cerita Hati
Diposkan dalam cerpen pada 20 Februari 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Cerita Hati Tulisan Sebenarnya sih, sekitar 2 tahun sejak aku berbusana muslimah, di diary-ku nggak pernah ada lagi cerita tentang mahluk yang bernama cowok itu kecuali ayah, kedua abangku dan pak Jon, guru fisikaku yang bijak sehingga membuat kami senang belajar. Aku kan sudah tahu bahwa Islam memang membatasi hubungan ‘antar jenis’ yang bukan mahrom. [...]
Ragil
Diposkan dalam cerpen pada 20 Februari 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Ragil “Pulang ke kotamu…. Ada setangkup haru dalam rindu….” Tembang Yogyakarta-nya Kla Project mengingatkanku pada kota kelahiranku. Dan itu artinya membuatku kembali teringat pada sosok Ragil. Perlahan kutapaki pasir-pasir di sepanjang tepian pantai Parangtritis. Matahari senja menyinari lautan. Bukit karang di sisi timur pantai, ombak putih yang berkejaran, langit biru Yogya, pernah aku berkeinginan menunjukkan [...]
Bidadari Kecil Itu Tak Pernah Sendiri
Diposkan dalam cerpen pada 20 Februari 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Bidadari Kecil Itu Tak Pernah Sendiri Matanya bulat, cantik dan jernih seolah tak berdosa. Tawanya pun selalu lepas, sehingga menambah keceriaan di wajah. Usianya memang telah dewasa, namun ia berprilaku bagaikan balita yang polos dan tak banyak meminta. Kelembutan yang terpancar dari jiwa, juga telah menghapus kesempatannya untuk berbuat nakal dan dosa. Ia adikku, Dian [...]










