Memori tentang Bunda
Aku sedang bermain dengan temanku di SD Cendana saat kulihat Bu Guru berjalan ke arahku bersama Om Farid dengan penuh saying dan simpatik. Setelah Bu Guru mengizinkan. Om Farid langsung membawaku pergi jalan-jalan sambil bercerita dan berakhir di sebuah pasar swalayan.
“Fara mau apa sayang?” Tanya Om Farid ketika kami sampai di sebuah stand yang penuh dengan mainan dan boneka cantik. Om Farid memang tahu kegemaranku. Aku paling suka bermain dengan boneka panda. Dan tanpa kujawabpun, Om Farid telah membelikannya untukku.
Sambil menyetir mobil menuju rumah, Om Farid merebut boneka panda dari pelukanku, jelas aku protes. Tapi dengan lembut Om Farid bilang, “Fara, misalnya saja boneka ini milik orang lain yang dipijamkan orang kepada Fara,…terus suatu saat nanti orang tersebut memintanya kembali, padahal…Fara udah sayang banget ama bonekanya. Trus…Fara gimana?
“Mm..Fara balikin dong!”
“Yang bener?”
“Ya, soalnya kata bunda kalo yang milik Fara ya..harus dikembalikan ama yang punya.” Kataku menirukan kata-kata bunda sebelum bunda sakit dulu. Khan…aku jadi ingat bunda lagi.
“Om kita liatin bunda di rumah sakit yuk..!!”
“Fara kangen bunda ya..?”
“Iya, mau ya Om?” Rengekku.
“Kita balik kerumah aja ya..Ra? Lagian bunda udah pulang ke rumah.
Koq Fara nggak tahu ya? Kucari jawaban di wajah Om Farid, namun Om Farid tidak menunjukkan reaksi apapun. Sampai di rumah, aku dikagetkan oleh banyaknya saudara yang datang…Ada Eyang, Tanta Ira, Tante Wina, Om Hasan, OM Faizal, Bahan Om Zul dari Kalimantan juga hadir. Lebaran khan masih dua minggu lagi. Pikirku. Aku disambut Papa dengan ciuman dan menggandengku masuk ke dalam.
“Pa, Bunda di mana?”
“Bunda, Fara kangen? Fara sayang Bunda?”
“Sayang dong..!!”
“Trus kalo sayang bunda, mau nggak memberikan sesuatu buat Bunda?”
“Apapun yang Bunda inginkan, Fara akan berikan. Emangnya Bunda minta apaan sih Pa?
Papa menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaanku.
“Kata Bunda, Bunda pengen tenang bersama orang yang paling disayangi Bunda.”
“Emangnya siapa yang paling disayangi Bunda?”
“Yang paling disayangi Bunda itu ya,..yang memiliki Bunda.”
“Lho yang memiliki Bunda itu khan kita Pa?”
“Sayang, inget nggak siapa yang menciptakan manusia?”
“Allah!!”
“Nah, berarti manusia itu milik Allah.”
“Koq Fara jadi bingung ya?”
“Maksudnya kalo suatu saat nanti Allah memanggil kita, kita harus ikhlas, seperti Fara ngembaliin barangnya orang lain.”
“Hubungannya apa dengan Bunda?”
“Sekarang Fara udah bisa liat Bunda, tapi harus janji, tetep harus jadi anak yang manis lho ya…?”
“Iya, cepetan dong Pa!!”
Perlahan kubuka pintu kamar Bunda. Di kamar yang luas itu kutemukan sosok Bunda sedang tidur dengan senyum di bibirnya ditemani Eyang, Mas Agung, Om Farid, juga yang lain. Mungkin Bunda masih capek dari rumah sakit. Namun rasa kangenku tak terbendung lagi, dan ingin segera membangunkan Bunda. Aku berlari menuju Bunda… dan mencium pipinya…kutemukan kehangatan di sana.
“Bunda, Fara pulang, Bunda!!” Kubisikkan ke telinga Bunda agar Bunda bangun.
“Bunda, ini Fara!” kucoba lebih keras agar Bunda tersadar.
“Bunda..!!” sambil kutepis pipi Bunda yang tetap dalam diam.
“Bunda, bangun Bunda, ini Fara, Fara sayang Bunda!!” Semakin kencang kugoyangkan tubuh Bunda, namun Bunda tetap diam…tidur dalam senyumannya.
“Bunda, bangun Bunda..Bangun!!”
Bunda tak kunjung bangun, kucoba cari jawaban di wajah Eyang, Papa, Om Farid, namun aku tak menemukan jawabnya. Yang kudapatkan hanyalah wajah-wajah sendu…, aku semakin tak mengerti.
“Pa, kenapa Bunda? Katakan Pa??” Papa memelukku, namun aku tak sabar. Segera kuhampiri Bunda lagi.
“Bunda..ini Fara Bunda. Bangun, bangun, Bunda ini Fara, Fara sayang Bunda…Bundaa……!!”
“Sayang, biarkan Bunda tenang di sana. Fara janji kan..? bunda bukan milik kita, kita harus ikhlas saying.” Kudengar lembut suara Papa. Aku tak tahan. Aku menangis….
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Allah memanggil Bunda di bulan yang penuh berkah ini. Bunda pergi dan takkan kembali. Dalam tangis aku memohon…. “Ya Allah…aku saying Bunda. Bunda telah melahirkanku dengan nyawa sebagai taruhannya. Aku ikhlas ya Allah…walalu aku berharap idul fitri nanti engkau memberikan kekuatan kepadanya untuk bersama-sama denganku. Namun Engkau berkehendak lain. Sayangi bunda ya Allah…”
Selamat jalan Bunda, Fara sayang Bunda”
Ditulis oleh Ida Yana S.
Muslimah SLTP Taruna Jaya I Surabaya
Sumber: koleksi mediague










